Jumat, 05 Februari 2010

bumi dan kalender surya

Perkembangan Astronomi (3)
Bumi dan Kalender Surya
14/02/2007

Oleh Djamhur Effendi

Bumi yang kita diami merupakan benda langit anggota tata surya yang berbentuk bulat. Di bawah tanah yang kita injak terdapat lapisan batu. Bagian dalam bumi jauh lebih panas daripada bagian luarnya. Inti bumi panas sekali. Manusia, hewan, tumbuhan hidup di bagian luar itu yang disebut kerak bumi.

Kedudukan sumbu rotasi bumi yang miring membentuk sudut 23,5 derajat terhadap garis normal bidang orbit bumi mengelilingi matahari, menjadi penyebab adanya tatanan empat musim tahunan di belahan bumi utara dan selatan, dan di Indonesia hanya terdapat musim kemarau dan musim hujan. Dalam setahun Matahari melintasi ekuator dua kali, yang pertama sekitar tanggal 21 Maret dan yang kedua sekitar 23 September.

Tanggal 21 Maret kedudukan matahari berada di arah titik musim semi atau vernal equinox atau titik aries. Matahari berpindah dari belahan langit selatan menuju belahan langit utara.
Sedangkan tanggal 23 September matahri berada di arah titik musim gugur atau autumnal equinox. Matahari melintas dari belahan langit utara ke belahan langit selatan.

Dahulu titik Vernal Equinox berada di arah rasi bintang Aries, namun akibat presesi sumbu planet bumi, sekarang berada di arah rasi Pisces. Dan arah ini terus bergeser ke barat, sehingga 700 tahun lagi titik Aries mencapai rasi Aquarius.

Gerak presesi sumbu bumi mirip dengan gerak sumbu gasing (panggal) atau seolah-olah menelusuri dinding kerucut dengan kemiringan 23.5 derajat. Jalur yang ditempuh planet untuk mengelilingi matahari disebut orbit. Bumi membutuhkan waktu satu tahun atau 365 hari 6 jam untuk membuat satu orbit (365,25 hari). Setiap empat tahun, kelebihan jam itu ditambahakan ke bulan Februari, sehingga menjadi 366 hari. Tahun istimewa itu disebut tahun kabisat (tahun panjang ), dan tahun yang lainnya adalah tahun basit (tahun pendek= 365 hari). Penanggalan Julian yang berakar dari sistem penanggalan Julius Caesar (45 SM ) yang merupakan perubahan sistem penanggalan Romawi.

Perubahan selanjutnya dilakukan oleh Paus Gregorius XIII menjadi sistem Gregorian. Saat pergantian sistem penanggalan dari Julian ke Gregorian, dalam penanggalan tertulis tanggal 4 Oktober 1582 dan keesokan harinya tanggal berubah menjadi 15 Oktober 1582 (artinya menghilangkan 10 hari à 5 Okt - 14 Okt 1582).

Tahun kabisat tidak lagi untuk semua tahun yang habis dibagi 4, tetapi tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi 4 dan tidak habis dibagi 100. Dengan kata lain saat ini tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi 400, misalnya: Tahun 1700, 1800, 1900 merupakan tahun basit, karena habis dibagi 4 dan habis dibagi 100. Tahun 2000 adalah kabisat, karena habis dibagi 400.

Dengan aturan 1 tahun rata-rata penanggalan Gregorian adalah 365,2425 hari, menunjukkan ini lebih teliti dibandingkan penanggalan Julian sebelumnya yang menggunakan 365,25 hari. Hal ini mengurangi tahun kabisat yaitu 3 tahun kabisat per 400 tahun.

Adanya reformasi kalender surya atau kalender Masehi dari zaman mesir hingga kalender surya Gregorian menunjukkan bahwa pemahaman manusia terhadap kosmos tidak mendadak sempurna, bahkan perlu waktu ribuan tahun untuk memahami perubahan kecil yang baru terlihat efek kumulatifnya setelah beribu tahun kedepan.

Kenyataannya, menurut pengamatan modern pada awal abad 20, didapatkan bahwa 1 tahun tropis matahari rata-rata sekitar 365,242199 hari. Dengan demikian, masih ada peluang untuk reformasi kalender surya berikutnya.

*) Djamhur Effendi adalah Staf Biro Litbang Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Pusat, Purnakarya LAPAN Bandung, Dosen UNPAD dan UNISBA. Makalah disampaikan dalam Diklat Nasional Pelaksana Rukyat Nahdatul Ulama, Masjid Agung Jawa Tengah, 19 Desember 2006.

« Kembali ke arsip Teknologi Informasi | Prin

Tidak ada komentar: